Minggu, 01 Juni 2014

Dewasa ini, banyak ditemukan metode dalam belajar yang baik dan efektif, baik dalam mempelajari ilmu agama maupun sains. Hal ini bertujuan supaya para murid dapat menyerap muatan ilmu dan dapat mengamalkannya dengan sebaik-baiknya. Namun, tahukah kita hakikat dari ilmu tersebut?

Dr. Bakir ibnu Abdullah Abu Zaid menjelaskan, bahwa seorang pencari ilmu haruslah mengetahui bahwa ilmu sesungguhnya adalah ibadah. Beberapa ulama pun menegaskan, "Ilmu adalah salat yang tersembunyi dan ibadah hati."

Syaikh Muhammad ibnu Shaleh al Utsaimin juga memaparkan beberapa syarat yang menjadikan ilmu bernilai ibadah; 1. Niat yang ikhlas melakukan segala sesuatu hanya untuk Allah Swt. 2. Memiliki sifat/ kriteria yang membawa kebaikan di dunia dan di akhirat, yaitu mencintai Allah 'Azza wa Jalla dan juga rasul-Nya Muhammad SAW.

Berikut ulasan tentang "Ilmu adalah Ibadah" yang saya dapat dari buku Hilyatu Thalibi-l-ilmi karangan Dr. Bakir ibnu Abdullah Abu Zaid dan dari buku Syarhu Hilyati Thalibi-l-ilmi Karangan Syaikh Muhammad ibnu Shaleh Al Utsaimin;

والله أعلم
Sumber:
- Dr. Bakir ibnu Abdullah Abu Zaid, Hilyatu Thalibi-l-ilmi
- Syaikh Muhammad ibnu Shaleh al Utsaimin, Syarhu Hilyai Thalibi-l-ilmi
Posted by Nazeeh Masyhudi On Minggu, Juni 01, 2014 No comments READ FULL POST

Selasa, 27 Mei 2014

Nama Buku: Syarh Hilyati Thâlibu-l-ilmi (شرح حلية طالب العلم)
Pengarang: Syaikh Muhammad ibnu Shâlih al Utsaimin
Percetakan: Percetakan al Syaikh Muhammad ibnu Shâlih al Utsaimin al Khairiyah
Spesifikasi: 1 Jilid (24x17 centimeter, 397 hlm)
Harga: 25 SAR (Saudi Riyal)

Syarhu Hilyati Thâlibi-l-Ilmi adalah buku yang dikarang oleh Syaikh Muhammad ibnu Shâlih al Utsaimin –rahimahullâh-. Buku tersebut berisi penjelaskan dari seluruh isi buku Hilyatu Thâlibi-l-ilmi karangan Syaikh Dr Ibnu Abdillâh Abu Zaid –rahimahullâh-.

Syaikh Muhammad ibnu Shâlih al Utsaimin menulis buku ini (Syarhu Hilyati Thâlibi-l-Ilmi) dengan bahasa yang lebih sederhana dari buku utamanya. Di dalamnya, beliau tidak hanya mengartikan tulisan dari buku utamanya (Hilyatu Thâlibi-l-ilmi), tapi juga menambah banyak penjelasan serta contoh-contoh yang berasal dari ayat alquran dan hadist juga dari perkataan ulama dan para sahabat nabi.

Buku penjelas ini dicetak oleh Percetakan al Syaikh Muhammad ibnu Shâlih al Utsaimin al Khairiyah. Ia memiliki 397 halaman dengan panjang dan lebar 24x17 centimeter.

Posted by Nazeeh Masyhudi On Selasa, Mei 27, 2014 No comments READ FULL POST

Nama Buku : Hilyatu Thâlibi-l-ilmi (حلية طالب العلم)
Pengarang : Syaikh Dr Bakr Ibnu Abdillâh Abu Zaid
Percetakan : Dar Ibnu Al Jauziy
Spesifikasi : 1 Jilid (24x17 centimeter, 96 hlm)
Harga : 10 SAR (Saudi Riyal)

Buku Hilyatu Thâlibi-l-ilmi karangan Syaikh Dr Ibnu Abdillâh Abu Zaid –rahimahullâh-, berisi banyak nasehat tentang bagaimana seharusnya seorang penuntut ilmu berperilaku. Di dalam mukaddimahnya, beliau juga menceritakan bahwa sejak dulu terdapat halaqah ilmu di dalam Masjid Nabawi yang para masyaikh pengajarnya mengajarkan tentang isi dari buku Ta’lîmu-l-Muta’allim Tharîqa-l-Ta’allum karya Syaikh Al Zarnûjiy (593 H).

Oleh karena itu, beliau berharap bahwa materi tentang bagaimana seorang penuntut ilmu berperilaku ini terus di ajarkan kepada para murid secara bertahap di setiap mukaddimah pelajaran. Baik di halaqah-halaqah yang terdapat di masjid-masjid maupun di dalam sekolah formal.

Buku Hilyatu Thâlibi-l-ilmi terdiri dari tuju bab utama. Bab pertama berjudul “Âdâbu-l-Thâlib fi nafsihi” menjelaskan beberapa sifat yang berkenaan dengan penuntut ilmu. Bahwa seorang penuntut ilmu harus mengerti apa hakikat dari ilmu bahwa ilmu itu adalah ibadah. Dan oleh karena ilmu (menuntut ilmu) adalah ibadah, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh penuntutnya. Dan demikian beliau menjelaskan hingga akhir bab. Dan di dalam bab ketuju yang berjudul “Al Mahâdzîr (المحاذير)” berisi tentang beberapahal yang sebaiknya dijauhi oleh para penuntut ilmu.

Sang penulis menuturkan setiap kalimatnya dengan sangat indah. Beberpa ungkapan mungkin kurang dapat dipahami karena tingkat bahasa arab beliau sangat tinggi lagi mendalam. Hingga Syaikh Muhammad ibnu Shâlih al Utsaimin mengarang sebuah buku (Syarh Hilyati Thâlibi-l-ilmi) yang menjelaskan isi dari buku ini. 

Buku ini dicetak oleh Percetakan Dâr ibnu Al Jauziy. Memiliki 96 halaman dengan panjang dan lebar 24x17 centimeter membuatnya sangat mudah dibawa dan ringan.

Posted by Nazeeh Masyhudi On Selasa, Mei 27, 2014 No comments READ FULL POST

Rabu, 04 April 2012

             Setiap diri pasti mempunyai idola dalam hidupnya. Orang yang terpikat dengan sosok idola, lebih banyak akan meniru gaya hidupnya; bahkan foto dan poster sang idola di pajang di dalam kamarnya. Begitu bangga jika sang idola yang ia gandrungi dekat denganya. Ia buru tanda tangan dan berusaha agar dapat berfoto bersamanya. Gaya pakaian tak luput di jadikan gaya hidupnya. Yang paling parah lagi, jika ia mengikuti keyakinan dan kepercayaan sang idola. Idola itu ada yang menjerumuskan dan ada pula yang menyelamatkan. Kehati-hatian dalam memilih idola dapat memilih idola yang tepat.


             Sejatinya bagi orang muslim dapat menemukan sosok yang paling sempurna, yaitu baginda Rasulullah saw. Pada diri beliau terdapat keteladanan yang luhur yang dapat menghantarkan pada rahmat dan ridha Allah. Beliau adalah sosok yang paling sempurna akhlaknya. Hingga Allah berfirman dalam surat al-qolam ayat 4:
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ.
“Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS.Al-Qolam:4).

             Siapa pun orangnya, baik pejabat, rakyat biasa, seorang ayah, suami, seorang ibu, guru, pengusaha, negarawan, pemimpin masyarakat dapat mendapatkan rahmat dan ridha Allah, jika menteladani diri Rasulullah saw. Beliau penghulu para nabi dan rasul. Rasul yang paling mulia dan agung. Akhlak dan amal beliau adalah realisasi nilai-nilai al-qur’an. Semua butiran-butiran kata yang terucap dan perbuatannya mengandung banyak hikmah dan faidah. Hingga perkataan dan perbuatannya tidak di batasi oleh ruang dan waktu. Kehalusan dan kelembutan tutur kata dan perbuatan beliau terpancar dari al-qur’an. Hingga istri beliau Siti Aisyah pernah berkata, bahwa: “Kana khuluquhul qur’an.”, bahwa “Akhlak Rasulullah ialah al-qur’an”. Yang dimaksud dengan akhlak al-qur’an adalah bahwa Rasulullah selalu berpegang pada adab, perintah-perintah, larangan-larangan, dan ketentuan-ketentuan yang ada dalam al-qur’an. Jadi pribadi dan sepak terjang Rasulullah adalah manifestasi dan realisasi dari ajaran-ajaran al-qur’an.

            Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata tentang diri Rasulullah saw: “Barang siapa memandangnya sepintas lalu, akan merasa enggan kepadanya (sebab kewibawan beliau), tetapi barang siapa telah bergaul baik-baik dengannya, akan timbul cinta kepadanya”.

             Rasulullah saw di utus oleh Allah ke muka bumi itu hanya untuk menyempurnakkan akhlak karimah. Rasulullah saw diberikan mu’jizat yang agung berupa al-qur’an sebagai pedoman hidup manusia, supaya beliau menyeru manusia untuk mengimani rukun iman dan menunaikan rukun islam secara kaffah, tidak lain dan tidak bukan, kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang karimah. Mengapa dalam hadits di atas kata “akhlak” di sifati dengan kata “karimah“? Ini menunjukkan bahwa kemuliaan itu erat kaitannya dengan akhlak mulia. Kemuliaan itu tidak disebabkan karena ketampanan, kekayaan, kedudukan, tetapi kemuliaan itu disebabkan oleh akhlak mulia. Meskipun seseorang itu miskin, tak punya apa-apa, tak berkedudukan, jika ia berakhlak mulia, niscaya ia akan memiliki kemuliaan. Jika ada seorang pejabat, konglomerat, uangnya banyak, mobilnya mewah, rumahnya seperti istana, ia dimulyakan orang sebab harta dan kedudukannya, maka kemuliaannya adalah semu. Kemulyaan yang disebabkan oleh harta benda atau kedudukan adalah kemuliaan yang sifatnya semu. Jika hartanya habis, kedudukannya berakhir, dan tanda tangannya tidak laku, maka lenyap sudah kemulyaannya. Orang tidak akan memandang ketampanannya, kekayaannya, kedudukannya, melainkan orang itu melihat pada akhlaknya. Karena itu, kemulyaan itu sangat erat dengan akhlak karimah. Kerusakan-kerusakan yang terjadi, musibah dan bencana yang tak kunjung berhenti, penyebabnya adalah bobroknya akhlak.

Mengapa terjadi kecelakan kereta api? Itu karena ada orang yang akhlaknya rusak. Bukan salah masinis atau kesalahan penjadwalan kereta. Sebab, masinis telah bertahun-tahun mengemudikan kereta api dan penjadwalan sudah di atur sejak lama. Kecelakaan itu terjadi akibat ada orang yang tidak bermoral, karena terhimpit kebutuhan ia lepas baut pengikat rel kereta untuk di jual. Kesalahan satu orang yang tidak berakhlak mulia merugikan banyak orang. Percekcokan dalam rumah tangga, juga dipicu oleh akhlak yang jelek. Jika suami yang ditanya mengapa terjadi percekcokan, niscaya ia akan menyalahkan istrinya. Jika istri yang di tanya, niscaya ia akan menyalahkan suaminya. Intinya, sebab akhlak jelek kewajiban tidak dijalankan, maka terjadilah percekcokan. Demikian pula dengan berbagai masalah yang terjadi itu akibat dari akhlak yang buruk. Karena itu, pantaslah Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia, agar hidup menjadi damai dan tentram serta terhindar dari kekalutan dan permasalahan.

Berakhlak karimah itu hanya berlaku bagi manusia, bukan untuk hewan atau tumbuhan. Karena itu, saat pohon kelapa tumbang menimpa masjid, tidak ada undang-undang yang akan menghukum pohon kelapa itu. Demikian juga, misalkan ada seekor sapi betina berjalan kelihatan pahanya, maka ia tidak perlu dinasehati. Sebab, akhlak hanya berlaku dan untuk manusia saja.

Berhias dengan akhlak mulia pertanda imannya sempurna. Sebab, di antara kesempurnaan iman adalah kesempurnaan akhlak. Sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Rasulullah saw:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا.
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud).
Seorang muslim yang baik, tentu saja ia akan berusaha untuk menghias diri dengan akhlak karimah dengan mensuritauladani Rasulullah dalam kehidupan. Ia berbicara pada saat dan tempat yang tepat dan ucapannya sarat dengan hikmah. Kata-katanya mengandung kelembutan, kebenaran, seruan, ide, gagasan, zikir, solusi, dan ilmu yang menyejukan hati orang yang mendengarnya. Ia lebih banyak diam dari pada banyak berbicara tetapi banyak kesalahan. Pandangannya tertunduk dari pandangan yang haram. Ia murah senyum tulus ketika bertemu dengan siapa pun. Ia hindari perkataan dan sikap yang mengandung kesombongan. Ketika berbicara ia jauhi perkataan kotor dan mencaci orang. Ia sedikit berbicara, tetapi banyak bekerja. Amal dan pekerjaannya jauh dari pamrih. Tawadhu’ di hadapan siapa pun. Khusyu’ dan tenang manakala beribadah. Ia menyayangi setiap orang seperti ia menyayangi diri sendiri. Arif dan bijaksana dalam memutuskan sesuatu. Ia segera menyambung hubungan yang sempat terputus. Ia maafkan orang yang berbuat dholim kepadanya. Aib dan kekurang orang tak pernah ia buka di muka umum. Introspeksi diri untuk memperbaiki diri selalu ia lakukan. Ia benci dan cinta karena Allah. Susah senang ia terima dengan lapang dada. Sabar ketika di timpa musiab. Ia mendahulukan keramahan dari pada kemarahan. Hatinya berontak jika ada hewan yang teraniaya. Begitu besar kasih sayangnya terhadap makhluk ciptaan Allah.

Tidak hanya kepada manusia, hewan, dan makhluk yang lain saja ia berakhlak mulia, tetapi kepada Allah pun ia berusaha beribadah dengan berhias akhlak karimah. Ia pilih baju yang terbaik untuk menghadap kepada-Nya. Ia hayati dan tenggelam dalam beribadah saat berdialog dengan Allah. Hati dan pikirannya disimpuhkan kepada Zat Yang Maha Agung. Ia hindari sifat suka mengeluh, mencela, dan menghina. Ia lalui alur kehidupannya dengan rasa malu, karena terus Allah mengawasi dirinya. Sungguh bahagia orang yang dapat menghiasi diri dengan akhlak yang mulia. Tidak dapat berhias dengan akhlak yang mulia, kecuali orang yang mengenal (ma’rifat) kepada Allah. Allah bersama dengan orang yang memiliki akhlak mulia. Kesempurnaan akhlak terletak pada kejernihan hati yang tertata indah. Semakin bersih hatinya, semakin sempurna akhlaknya. Baik hati, maka baik akhlaknya. Buruk hati, maka buruk akhlaknya. Keluhuran dan kemuliaan akhlak yang tidak bersumber dari hati yang bersih adalah keluhuran dan kemuliaan yang bertendensi dan berpura-pura. Keluhuran dan kemuliaan akhlak yang hakiki adalah keluhuran dan kemuliaan yang bersumber dari hati yang tunduk pada Allah. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Karena itu, siapa yang ingin berhias diri dengan akhlak mulia, maka hendaknya ia meneladani akhlak Rasulullah saw. Firman Allah SWT dalam surat al-ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوْا اللهَ
وَ الْيَوْمَ الأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا.
“Sungguh pada diri Rasulullah saw itu terdapat suri tauladan yang baik bagi kamu, (yaitu) bagi siapa yang mengharap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan)
hari kiyamat dan ia banyak menyebut Allah.”
(QS. Al-Ahzab:21)
Ayat ini menjelaskan bahwa pada diri Rasulullah saw terdapat suritauladan yang baik bagi orang-orang yang ingin mendapat rahmat Allah dan kebahagiaan di ahirat nanti. Karena itu, ia selalu banyak mengingat Allah dalam hidupnya. Ahirnya, kita bermohon kepada Allah SWT, semoga Dia berkenan menitipkan kepada kita hati yang bersih, lembut, tertata indah, tulus, tawadhu’, syukur, dan sabar, sehingga dengan hati yang bersih itu kita dilengkapi oleh Allah kesempurnaan akhlak dengan akhlak karimah. Amin.
Posted by Nazeeh Masyhudi On Rabu, April 04, 2012 No comments READ FULL POST

Rabu, 21 Maret 2012

          Kampung Damai - Kesekretariatan merupakan suatu hal yang sulit untuk dipahami
maupun dimengerti. Secara kasat mata, skretaris adalah bagian yang hanya duduk di depan komputer yang kerjaannya hanyalah klik sana sini. Pemikiran yang demikian ini adalah salah. Karena Kesekretariatan memiliki definisi, fungsi, dan bagaimanakah kesekretariatan dan keadministrasian itu sendiri.
Posted by Nazeeh Masyhudi On Rabu, Maret 21, 2012 No comments READ FULL POST
OPPM – Reformasi kepengurusan dalam sebuah keorganisasian merupakan sebuah hal yang wajar. Tanpa adanya regenerasi dan kaderisasi dalam sebuah kepengurusan, maka kepengurusan tersebut tidak akan mengalami perubahan maupun perkembangan baik dalam segi kaderisasi kepengurusannya ataupun sistem dan nilai keorganisasiaannya.
           
           Regenerasi kepengurusan suatu organisasi ini merupakan bentuk kaderisasi. Dalam proses menjalankan kaderisasi dalam suatu organisasi ataupun kepanitiaan dibutuhkan sebuah pengawalan terhadap militansi dan etos kerja kader kader tersebut. Demikian pula halnya Organsasi Pelajar Pondok Modern (OPPM).
Posted by Nazeeh Masyhudi On Rabu, Maret 21, 2012 No comments READ FULL POST

Minggu, 18 Maret 2012

    
   Ibadah bukanlah sekedar gerakan jasad yang terlihat oleh mata, namun juga harus menyertakan yang lain. Sebagaimana seseorang yang sedang melaksanakan sholat, ia tidak hanya bergerak untuk melaksanakan setiap rukun dan wajib sholat, tetapi juga harus menghadirkan hati sebagai ruh sholat tersebut. Bahkan jika seseorang menampakkan kekhusyukan badan dan hatinya kosong dan bermain-main maka ia terjatuh dalam kekhusyukan kemunafikan.
Posted by Nazeeh Masyhudi On Minggu, Maret 18, 2012 No comments READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Blogger news